Showing posts with label Biologi. Show all posts
Showing posts with label Biologi. Show all posts

Thursday, May 2, 2013

Sangat Kecil, ini Mumi Apa Alien?

Atacama Humanoid (Ata)

Did you know? | Tahun 2003, sebuah makhluk yang dijadikan mumi ditemukan oleh seorang pria yang mencari peninggalan sejarah di sebuah gereja di La Noria, Gurun Atacama, Cile. Mumi itu sangat kecil, berukuran hanya sekitar 15 cm.

Rupa mumi tersebut begitu aneh, menyerupai alien. Karenanya, selama 10 tahun, identitas tulang tersebut menjadi misteri. Ada yang percaya bahwa mumi itu adalah makhluk luar angkasa, ada pula yang meyakini bahwa mumi itu adalah janin manusia yang digugurkan.

Orcar Munoz, penemu obyek itu, awalnya mendeskripsikan bahwa kerangka itu memiliki gigi keras dan kepala yang memiliki tonjolan. Sementara itu, terdapat sisa kulit yang tampak bersisik. Tak seperti manusia, tulang rusuknya hanya 9 (jumlah kemudian direvisi menjadi 10).

Mumi yang kemudian disebut Atacama Humanoid (Ata) tersebut beberapa kali berpindah tangan sebelum akhirnya jatuh ke Ramon Navia Orio, Kepala Institute for Exobiological Investigation and Study (IEE). Navia Orio mengungkapkan, obyek itu bukanlah hoax, walau belum tahu apakah memang alien.



Minggu ini, dalam tayangan bernama "Sirius" pada Senin (22/4/2013), terkuak bahwa mumi tersebut betapa pun anehnya adalah manusia. Analisis DNA menunjukkan bahwa obyek yang dimumikan itu adalah seorang pria.

Gary Nolan, peneliti sel punca dari Stanford University, dalam tayangan dokumenter tersebut mengatakan, "Saya yakin sekali ini bukan monyet. Ini manusia, lebih dekat ke manusia daripada simpanse. Ia hidup hingga usia 6-8 tahun."

"Pastinya, dia bernapas, dia makan, dia melakukan metabolisme. Menjadi pertanyaan kemudian adalah berapa besar ukurannya ketika dilahirkan," papar Nolan seperti dikutip Huffington Post, Rabu (24/4/2013).

Nolan melakukan analisis pada DNA mitokondria, bagian sel yang bertugas menghasilkan energi tetapi juga memiliki materi genetik. "Untai yang kami dapat dari DNA mitokondria menunjukkan bahwa ibu dari manusia ini adalah orang Indian dari Cile."
Sumber: Huffington Post
Editor: Kompas

Monday, January 28, 2013

Did you know? | HIV Sudah Ada Sejak 16 Juta Tahun Lalu

Citra virus HIV 3 Dimensi

Did you know? | SEATTLE — Studi menunjukkan, Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan AIDS tak muncul serta-merta, tetapi lewat proses evolusi yang panjang. Diduga, evolusi yang menciptakan spesies ini berlangsung sejak 5-16 juta tahun lalu.

Ilmuwan dari University of Washington dan Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle menyimpulkan hal tersebut setelah mempelajari jejak genetik dari virus serupa HIV pada beragam primata, seperti orangutan, simpanse, gorila, dan monyet.

Virus HIV dan penyakit AIDS pertama kali ditemukan pada abad 20. Namun, peneliti menduga bahwa proses evolusi yang berujung pada terciptanya virus ini dimulai sejak 16 juta tahun lalu. Pertama kali, virus serupa HIV menjangkiti golongan primata. Virus serupa HIV yang menjangkiti primata diketahui ialah jenis lentivirus.

Studi genetik mengungkap, sepupu dari virus HIV diduga juga telah muncul kira-kira 10.000 tahun lalu. Namun, virus tersebut diabaikan. Virus terus berevolusi sehingga pada abad 20 dijumpai HIV yang menyerang manusia.
Sumber: BBC
Editor: Kompas

Thursday, January 24, 2013

Did you know? | Alasan Mengapa Serigala dan Anjing Bersahabat

Serigala abu-abu (Canis lupus)

Did you know? | MASSACHUSETS - Anjing dan serigala merupakan spesies yang sama, Canis lupus. Namun demikian, keduanya menunjukkan respon berbeda saat menghadapi manusia. Serigala cenderung liar sementara anjing bersahabat.

Kathryn Lord, peneliti biologi evolusi dari University of Massachusetts Amherst meneliti perbedaan perilaku tersebut. Ia melakukan tes pada 7 serigala dan 43 anjing untuk melihat responnya pada bau, bunyi dan cahaya.

Lord juga menganalisis periode kedua jenis hewan itu mulai bersosialisaso dengan lingkungannya, mulai berjalan dan menjelajah. Periode ini sangat menentukan respon suatu spesies pada lingkungan sekitarnya di masa setelahnya.

Riset mengungkap, anjing dan serigala sama-sama mengembangkan kemampuan membaui setelah 2 minggu, mendengar setelah 4 minggu dan melihat setelah 6 minggu. Tapi, keduanya memasuki masa sosialisasi pada waktu yang berbeda. Serigala mengalami setelah 2 minggu, anjing setelah 4 minggu.

Lord menuturkan, serigala sudah mulai berjalan dan menjelajah saat umur 2 minggu, dimana mereka masih belum punya kemampuan melihat. Untuk menjelajah, mereka mengandalkan kemampuan membaui lingkungannya.

"Saat anak serigala mulai mendengar, mereka takut akan suara baru. Dan, saat mereka mulai melihat, mereka juga takut akan stimulai cahaya. Serigala mengalami shock sensorik yang tak dialami anak anjing," kata Lord seperti dikutip Science Daily, Kamis (17/1/2013).

Saat serigala sudah menjelajah dan mengenal dunia, anjing masih diam, bahkan belum bisa berjalan ke sekelilingnya. Perbedaan perkembangan ini menentukan sifat liar pada serigala dan sikap yang cenderung bersahabat pada anjing.
Sumber: Science Daily
Editor: Kompas

Saturday, December 29, 2012

Did you know? Ini yang Bikin Indonesia "Wow" di Tahun 2012

Ilsutrasi tata surya tertua dengan bintang induk bernama HIP 11952 atau
"Sannatana" dan dua planet gas raksasa.
 

Did you know | Apa yang membuat Indonesia bisa dikatakan "wow"? Salah satunya adalah temuan, inovasi, ataupun keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam penelitian yang hasilnya diakui dunia internasional.

Tahun 2012 ini, beberapa ilmuwan Indonesia berhasil memberikan sumbangan terbaik dalam ilmu pengetahuan. Setidaknya, ada empat temuan, inovasi, dan keterlibatan ilmuwan Indonesia yang membanggakan. Apa saja?

Temuan Tata Surya Tertua

Astronom Indonesia yang sempat berkarya lebih dari 10 tahun di Max Planck Institute for Astronomy, Heidelberg, Jerman, Johny Setiawan, menemukan tata surya tertua, berusia 12,8 miliar tahun, hanya 900 juta tahun lebih muda dari Big Bang.

Induk tata surya tersebut adalah bintang bernama HIP 11952 atau Sannatana (bahasa Sansekerta, berarti purba). Tata surya tersebut diketahui memiliki dua planet, masing-masing dinamai HIP 11952 b dan HIP 11952 c. Kedua planet adalah jenis planet gas raksasa.

Tata surya ini bisa dikatakan anomali. Kandungan logam pada bintang induk tata surya ini hanya 1 persen kandungan logam Matahari. Anggapan selama ini hanya bintang dengan kandungan logam tinggi yang bisa memiliki planet. Temuan ini menunjukkan planet yang mengorbit bintang miskin logam mungkin umum.

UAV Terbesar di Asia Berhasil Terbang Perdana

UAV terbesar di Asia, Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1), berhasil dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia, Josaphat tetuko Sri Sumantyo. Pengembangan dilakukan di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Chiba University, Jepang.

JX-1 memiliki keunggulan sebab ukurannya sebesar 6 meter dan punya payload sensor hingga 30 kg. Ruang besar pada UAV dipersiapkan untuk menampung beragam macam sensor. JX-1 juga unggul sebab dirancang tembus gelombang mikro dengan material badan pesawat berkarakteristik mendekati udara.

UAV ini berhasil diterbangkan perdana pada 7 Juni 2012 di Fujikawa Airfield. UAV ini nantinya akan menjadi tulang punggung riset penginderaan jauh. Malaysia dan Jepang sudah meminati teknologi ini.

Ilmuwan Indonesia Memburu Partikel Tuhan

Salah satu lompatan terbesar dalam fisika partikel pada tahun 2012 adalah penemuan partikel yang "mirip" Higgs Boson (partikel Tuhan). Penemuan oleh Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) ini diumumkan pada 4 Juli 2012 di Jenewa, Swiss.

Ilmuwan Indonesia, Suharyo Sumowidagdo, ternyata juga terlibat perburuan Higgs Boson. Ia terlibat dalam pengoperasian dan pemeliharaan detektor muon pada eksperimen Compact Muon Solenoid (CMS), salah satu eksperimen CERN untuk membuktikan eksistensi Higgs Boson.

Haryo adalah satu di antara segelintir fisikawan Indonesia yang menekuni fisika eksperimental. Lain dengan fisika teoretik, fisika eksperimental berupaya mencari keberadaan suatu partikel yang sudah dirumuskan dalam suatu teori.

Bayi Badak Sumatera "Andatu" Lahir

Indonesia punya prestasi dalam pembiakan badak Sumatera pada tahun 2012. Badak Sumatera bernama Andatu akhirnya berhasil dilahirkan dari pasangan badak jantan asal Kebun Binatang Cincinati, Andalas, dan badak Sumatera betina di Lampung, Ratu.

Keberhasilan pembiakan badak Sumatera telah ditunggu dunia selama 124 tahun. Badak Andalas selanjutnya akan dikawinkan lagi dengan dua badak betina lainnya. Keberhasilan konservasi badak Jawa selanjutnya ditunggu.

Indonesia Nenek Moyang Penduduk Madagaskar

Hasil studi Murray Coz dari Massey university di Selandia Baru mengungkap bahwa perempuan Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar. Studi dipublikasikan di jurnal Proceeding of the Royal Society B, 21 Maret 2012.

Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil studi DNA dari 2.745 orang Indonesia dari 12 kepulauan serta 266 etnis Malagasi. Data dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Indonesia turut mendukung studi ini.

Sejak lama, Indonesia diduga memiliki keterkaitan dengan Madagaskar. Dari sisi bahasa, bahasa Madagaskar mirip dengan bahasa Dayak Ma'anyan. Temuan ini membuat proses kolonisasi Madagaskar perlu dipikirkan kembali.

Did you know? | 10 Temuan Spesies Baru Asli Indonesia Tahun 2012

Amauropelma matakecil, jenis baru laba-laba yang ditemukan di Bukit Menoreh. 

Did you know? | Para taksonom terus bekerja mengungkap keanekagaraman hayati Indonesia. Banyak spesies baru asli Indonesia berhasil ditemukan dengan keterlibatan peneliti Indonesia sepanjang 2012.

Diantara ratusa yang ditemukan, ada 10 spesies menarik yang telah dideskripsikan. Semuanya menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya keanekaragaman hayati. Temuan spesies baru ini seharusnya semakin membuka kesadaran akan pelestarian alam.

Berikut 10 spesies paling menarik asli Indonesia. . .

Laba-laba yang Bermata Kecil

Amauropelma matakecil ditemukan di kawasan karst Menoreh oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi. Jenis ini adalah genus Amauropelma yang ditemukan di Pulau Jawa. Biasanya, genus Amauropelma ditemukan di Australia. Temuan menegaskan, kawasan karst kaya keanekaragaman hayati.

Tawon Garuda

Tawon baru ditemukan lewat kerjasama pakar serangga Puslit Biologi LIPI, Rosichon Ubaidilah, dengan University of California, Davis. Spesies ini sebenarnya sudah dideskripsikan tahun 2011 namun baru dipublikasikan secara resmi di jurnal Zookeys.

Tawon yang bernama Megalara garuda ini memiliki rahang yang besar sehingga menutup bagian samping kepala. Jika rahang dibuka, maka panjangnya akan melebihi kaki depan individu tawon itu sendiri. Spesies ini ditemukan lewat ekspedisi Mekongga.

Anggrek Mini

Spesies yang dinamai  Dendrobium mucrovaginatum ini dideskripsikan oleh taksonom anggrek Indonesia, Destario Metusala dari Kebun Raya Purwodadi, LIPI. Anggrek spesies baru ini dijuluki anggrek mini karena diameternya kurang dari 1 cm, sementara anggrek lain rata-rata 5 cm.

Dengan ukuran mini, anggrek yang ditemukan di Kalimantan ini layak dipertimbangkan menjadi tanaman hias di apartemen-apartemen di kota besar. Temuan ini dipublikasikan di Malesian Orchid Journal.

Kelelawar Tanpa Ekor

Peneliti Puslit Biologi LIPI, Ibnu Maryanto, adalah taksonom di balik penemuan spesies yang diberi nama Thoopterus suhaniae ini. Kelelawar ini dikatakan tak memiliki ekor karena ekornya mengalami reduksi menjadi rudiment.

Spesies ini adalah jenis kedua genus Thoopterus yang ditemukan di Sulawesi. Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi adalah hotspot volusi Pteropodidae, golongan kelelawar yang memakan buah atau bunga yang tersebar di Afrika dan Asia.

Katak Rawa "Kekar"

Hylarana rawa alias si katak kekar ditemukan di wilayah rawa di Riau. Katak ini memiliki kelenjar lengan atas yang besar, membuat lengannya tanmpak kekar. Peneliti LIPI, Amir Hamidy adalah orang di balik penemuan ini.

Status konservasi H. rawa hingga saat ini masih belum diketahui. Namun demikian, katak ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan sehingga rawan kepunahan. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Current Herpetology edisi Juni 2012.

4 Spesies Ikan Pelangi

Empat spesies ikan pelangi yang ditemukan adalah Melanotaenia arguni, Melanotaenia uris, Melanotaenia veoliae dan Melanotaenia wanoma. Masing-masing spesies dibedakan pola warna sisiknya. Seluruh spesies ditemukan di Papua.

Keempat spesies ditemukan atas kerjasama beberapa peneliti, salah satunya Kadarusman loba dari Akademi Perikanan Sorong. Temuan ini adalah bagian dari upaya mengungkap keragaman spesies di Papua lewat ekspedisi Lengguru-Kaimana.

Katak Sebesar Jari

Ada dua spesies katak sebesar jari yang ditemukan oleh peneliti LIPI, Amir Hamidy, yaitu Leptobrachium ingeri dan Leptbrachium kanowitense. Kedua spesies tersebut termasuk yang terkecil di genusnya.

Kedua spesies tersebut emula dikategorikan dalam spesies komplek, L. nigrops. Teknik molekuler digunakan untuk mengidentifikasi spesies tersebut. Jika teknik ini dipakai, keanekaragaman spesies katak bisa naik dua kali lipat.

Monyet Punah yang Ditemukan Kembali

Jenis monyet yang ditemukan kembali adalah jenis langur abu-abu (Presbytis hosei canicrus). Monyet ini ditemukan kembali oleh tim peneliti yang dikepalai oleh Brent Loken dari Simon Fraser University di Kanada.

Dua Jenis Pinang Baru Endemik Biak

Dua jenis pinang baru ditemukan di Biak dan Supirori. Keduanya endemik wilayah setempat dan masing-masing diberi nama Adonidia maturbongsii dan Hydriastele biakensis. Temuan ini menambah kekayaan palem dunia yang mencapai 2500 jenis dan 500 diantaranya ada di

Bambu Baru

Spesies baru baru dari Mekongga ditemukan oleh peneliti bambu LIPI, Elizabeth. Spesies ini belum diberi nama namun memiliki karakteristik unik, yaitu tumbuh merayap, diameter batang cuma 2 cm, tidak punya bulu tetapi punya lapisan lilin.
Sumber: Kompas

Saturday, December 8, 2012

Did you know? | Hewan dengan Telur Paling Kuat di Dunia


Eucypris virens
Did you know? | GDANSK - Telur yang lazim dikenal manusia biasanya rentan dan mudah pecah. Tapi, rupanya ada telur yang bisa dibilang paling kuat di Dunia, yaitu telur hewan golongan custacea, Eucypris virens, yang juga sering disebut udang biji.

Eucypris virens adalah spesies yang bisa hidup dalam dua fase, seksual dan aseksual. Keduanya punya bentuk yang berbeda. Spesies ini memiliki sperma yang berukuran raksasa, mencapai 1 cm. Dengan kata lain, sperma spesies ini lebih panjang dari tubuhnya sendiri.

Telur diantaranya disimpan pada suhu -72 derajat Celsius selama 3 minggu, dipaparkan pada radiasi ultraviolet B selama 10 jam, ditaruh dalam kondisi minim oksigen selama seminggu, dipaparkan pada empat macam enzim pencermaan, garam dan insektisida. Untuk pembanding, ada telur lain yang berada di kondisi normal.

Hasil eksperimen seperti diberitakan New Scientist, Kamis (6/12/2012) menunjukkan, hanya faktor sinar ultraviolet B yang memengaruhi telur Eucypris virens. Penetasan telur fase aseksual spesies itu sedikit melambat. Sementara, telur fase seksualnya tak terpengaruh.

Hingga saat ini, hewan yang bisa mengalahkan Eucypris virens adalah water bear, jenis invertebrata yang mampu bertahan di suhu di bawah -273 derajat Celsius dan tetap bertahan di lingkungan hampa antariksa. Eucypris virens mungkin juga harus dikirim ke angkasa.

Sumber: NewScientish

Monday, December 3, 2012

Did you know? | Ikan Langka Nan Unik, Tak Bermata dan Tak Bersisik


Did you know? | QUANG NINH - Ilmuwan dari Flora Fauna International menemukan spesies ikan langka baru di wilayah Ha Long Bay, provinsi Quang Ninh, Vietnam. Ikan itu unik karena tak memiliki mata dan sisik.

Spesies itu dinamai Draconectes narinosus. nama diambil dari paduan bahasa Yunani dan Latin. Kata "Deacon" berarti naga sementara "nectes" berarti perenang. "Narinosus" dalam bahasa Latin berarti tulang hidung besar. Jadi, spesies itu adalah ikan naga yang punya hidung besar.

D. narinosus adalah ikan gua. Karakter tanpa mata dan sisik merupakan salah satu adaptasi untuk hidup di lingkungan gua yang gelap. Ikan ini hanya hidup di air tawar gua, walaupun letak gua berdekatan dengan lautan.

Ikan jenis ini tepatnya ditemukan di Van Gio Island, bagian dari ekosistem karst yang terdapat di Ha Long Bay. Lebar wilayah Van Gio Island hanya 400 meter. Danau air tawar di dalam gua tempat ikan ini ditemukan juga hanya 200 meter dari lautan.
Sumber; LiveScience

Editor: Kompas

Tuesday, November 13, 2012

Did you know? | Ikan Gobi si "Bodyguard" Lindungi Karang dari Kerusakan

Danielle DixsonIkan Gobi
Did you know? | GEORGIA - Penelitian terbaru mengungkap bahwa ketika jenis karang tertentu punya pengawal yang akan melindunginya dari serangan rumput laut. Saat akan diserang, karang tersebut akan mengirimkan sinyal kimia untuk memanggil pengawal untuk menyelamatkannya.

Ilmuwan melakukan eksperimen dengan menaruh karang jenis Arcopora nasuta di dekat rumput laut Choloroesmis fastigiata yang punya senyawa kimia beracun bagi karang. Dalam eksperimen tersebut, ilmuwan juga menggunakan jenis ikan gobi.

Penelitian mengungkap, saat koral akan diserang, ikan gobi bergerak cepat untuk menggigit rumput laut pembunuh.

Observasi menunjukkan, adanya ikan gobi akan mengurangi kerusakan karang akibat rumput laut hingga 80 persen.

Menguraikan bagaimana penyelamatan karang bisa terjadi, Hay mengatakan, "Ada sinyal atau bau yang menari dan membuat semua ini terjadi. Ikan telah berevolusi untuk memahami isyarat bau yang dilepaskan oleh karang dan mereka dengan cepat membereskan masalah."

Bagi gobi, perlindungan karang sangat penting. Dengan melindungi karang, gobi melindungi  diri dari kekurangan pangan.

Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Science minggu lalu.

Sumber: LiveScience
Editor: Kompas

Friday, November 9, 2012

Did you know? | Sebelum Menetas, Burung ini Sudah Belajar Bernyanyi

Wikimedia Commons/Nevil LazarusMalurus cyaneus
Did you know? | ADELAIDE — Proses belajar spesies hewan dan manusia biasanya dimulai sejak bayi. Akan tetapi, tak demikian dengan burung passerine jenis Malurus cyaneus. Jenis burung itu belajar menyanyi sejak masih menjadi embrio.

Malurus cyaneus belajar menyanyi dari induknya. Induk biasanya akan berkicau dengan nada tertentu di dekat telur anakannya. Selain pada anakan, induk juga akan mengajari pasangannya untuk menyanyi.

Nyanyian harus dikuasai oleh anakan. Bagi anakan, nyanyian berfungsi sebagai password untuk mendapatkan makanan. Sementara itu bagi induk, nyanyian berfungsi membedakan anakan dengan burung malam yang kadang menginvasi sarangnya.

Sonia Kleindorfer, peneliti perilaku hewan di Flinders University, Adelaide, menuturkan, ilmuwan sebelumnya telah mengetahui bahwa Malurus cyaneus bisa membedakan spesies satu dan lainnya dengan nyanyian. Namun, ilmuwan tak menduga mereka belajar sejak tahap yang sangat dini.

Kleindorfer melakukan penelitian dengan merekam suara burung. Lewat riset, ia mengetahui ada 11 elemen nada yang dinyanyikan burung saat mengerami telur. Dari 11 elemen itu, satu elemen unik pada individu burung.

Menurut Kleindorfer, strategi burung memakai nyanyian sebagai password adalah strategi jitu untuk melawan burung pembajak.

Sumber: Scientific American
Editor: Kompas

Thursday, November 8, 2012

Did you know? | Spesies Baru Spons Berbentuk seperti Harpa

MBARIChondrocladia lyra

Did you know? | CALIFORNIA - Tim peneliti dari Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI) di Moss Landing, California, menemukan spesies baru spons yeng berbentuk seperti harpa atau kecapi. Spesies ditemukan di lepas pantai California dan dinamai Chondrocladia lyra.

Dalam penelitian, im yang dipimpin oleh Dr Lonny Lundsten ini mengoleksi dua spesimen spons harpa dan merekam sepuluh individu lainnya yang dijumpai. Spesimen awalnya tampak cuma punya dua organ baling-baling, tapi penyelaman menunjukkan bahwa spesies itu punya hingga enam organ serupa.

Dilaporkan Daily Mail, Selasa (6/11/2012), lain dari spons biasanya yang merupakan pemakan bakteri atau material organik di dasar laut, spons harpa masuk golongan karnivora atau pemakan daging.

Spesies ini punya cirik khas pada kakinya. Bagian kaki memiliki semacam pengait yang berguna untuk menangkap Crustacea sebelum membungkusnya dengan membran tipis dan mencernanya perlahan sebagai mangsa.

Spons harpa diperkirakan hidup di kedalaman 3,3 - 3,5 km. Menurut para ilmuwan, spesies ini berevolusi untuk memiliki organ serupa baling-baling sehingga memiliki jangkauan yang lebih luas untuk menangkap mangsa.

Sumber: DailyMail
Editor: Kompas

Monday, November 5, 2012

Did you know? | 9 Spesies Baru Tarantula Langka Ditemukan

Rogerio BertaniTyphochlaena amma

SAO PAULO, KOMPAS.com - Ilmuwan berhasil mengidentifikasi sembilan spesies baru tarantula lewat penelitian di wilayah tengah dan timur Brasil. Tarantula yang ditemukan dikenal sebagai tarantula pemanjat pohon.

Tarantula pemanjat pohon, dikenal pula dengan tarantula arboreal, punya bantalan pada kakinya sehingga mempermudah pergerakan di permukaan pohon ataupun daun yang halus.
Jenis yang juga ditemukan adalah Iridopelma katiae. "Spesies ini juga hidup di tanaman bromelia, salah satu diantara beberapa tempat hidup bagi tarantula yang memiliki air dan perlindungan dari sinar Matahari," papar Bertani.

Penemuan spesies baru itu dipublikasikan di jurnal Zookeys. Peneliti mengatakan, semua spesies sangat spesifik ke wilayah penemuannya dan sangat rentan oleh aktivitas manusia.

Sumber: Livescience
Editor: Kompas

Did you know? | Ditemukan Katak Mungil dengan 3 jari

Rute B. G. Clemente-CarvalhoBrachycephalus tridactylus

Did you know? | SAO PAULO — Satu lagi spesies katak baru ditemukan, menambah kekayaan jenis amfibi di dunia. Biolog dari Paulista State University di Sao Paulo, Brasil, Michel Garey, menemukan katak unik di cagar alam wilayah Guaraquecaba, Brasil.

Katak tersebut dinamai Brachycephalus tridactylus. Garey menuturkan, katak itu unik karena ukuran dan jumlah jari yang dimiliki. Sementara katak lain punya empat jari, katak baru ini cuma punya tiga jari di tiap kakinya. Menurut Garey, hal itu lebih disebabkan oleh proses evolusi, bukan lingkungan. Selain itu, ukuran katak pun mungil, cuma 1,5 cm, tak lebih besar dari ukuran permen karet.

Dilihat dari penampakannya, katak memiliki warna oranye dengan bintik berwarna kuning langsat di tubuhnya. Pejantan spesies ini memproduksi 30 panggilan kawin tiap harinya. Panggilannya punya ciri khas sebab satu nada panggil dari awal hingga akhir memiliki frekuensi yang terus menurun.

Brachycephalus tridactylus ditemukan di ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Wilayah tempat ditemukannya katak unik ini memiliki luas 2.253 hektar dan diketahui menyimpan 43 jenis katak. Ilmuwan sendiri memprediksi ada sekitar 650 jenis amfibi di Brasil.

Meski demikian, penemuan tersebut baru dipublikasikan pada Juni 2012 di jurnal Herpetologia.

Katak merupakan anggota amfibi, hewan berdarah dingin yang mampu hidup di ekosistem darat maupun perairan. Berdasarkan data Global Amphibian Assesment, sepertiga amfibi berada pada kategori terancam dan 120 spesies diperkirakan punah sejak tahun 1980. Pengetahuan tentang katak penting sebab hewan itu bisa berfungsi sebagai bioindikator kualitas lingkungan.

Sumber: Discovery
Editor: Kompas

Wednesday, October 31, 2012

Did you know? | Ditemukan, Kadal Ini Sudah Terancam Punah

Australia National UniversityCtenotus ora

Did you know? — Dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Zootaxa, Senin (29/10), sejumlah ilmuwan mengumumkan penemuan spesies kadal baru di sekitar kawasan Perth, Australia Barat. Sayangnya, saat ditemukan, kadal ini justru tengah berupaya untuk bertahan dari kepunahan.

Sunday, October 14, 2012

Did you know? | Lendir Physarum Dapat Merekam Memori

Audrey Dussutour/National Geographic NewsDengan meninggalkan jejak lendir, Physarum polycephalum bisa mengetahui
kemana saja mereka sudah singgah.
Ilmuwan dari Universitas Sydney dalam studi terbarunya yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academies of Science menyatakan, makhluk bersel tunggal Physarum polycephalum tidak memiliki sistem syaraf (otak) namun dapat merekam memori.

Saturday, October 13, 2012

Did you know? | Spesies Karang Baru Penghuni Gua Ditemukan

Bert HoeksemaLeptoseris troglodyta. Foto diambil di dekat wilayah Indonesia pada tahun 2003.
LEIDEN - Spesies karang baru ditemukan di gua bawah air di wilayah Segitiga Terumbu Karang, Pasifik bagian barat.

Friday, October 12, 2012

Did you know? | What is the true cost of conservation worldwide? Billions, annually

Geographic patterns in the annual cost for conservation actions for 1,097 globally threatened
bird species assuming that actions for each species are independent.
Phys.org - The world's governments will need to invest billions annually to reduce the extinction risk for all known threatened species, a new study by University of Sussex biologist Dr Jörn Scharlemann and an international team of scientists concludes.

Tuesday, October 9, 2012

Did you know? | Empat Jenis Kelelawar Berhidung Daun Ditemukan

Rhinolophus hildebranditii (Image: Kompas)
Peneliti telah berhasil mengidentifikasi empat spesies kelelawar ladam baru. Kelelawar ladam adalah golongan kelelawar yang memiliki hidung besar berbentuk seperti daun.

Did you know? | Kelelawar Merayu dengan Suara

Kelelawar telinga panjang (Plecotus auritus, Image: Kompas.com)
Sebuah studi, yang diterbitkan pada Proceedings of the Royal Society B, mengungkapkan bahwa informasi yang terdapat pada suara yang dikeluarkan kelelawar juga termasuk informasi seputar seks, yakni untuk membantu mamalia terbang tersebut mendapatkan pasangan.