Showing posts with label Astronomi. Show all posts
Showing posts with label Astronomi. Show all posts

Monday, October 14, 2013

Did you know? | Jupiter dan Saturnus Mengalami Hujan Berlian


Did you Know? | Mona Delitsky dari California Speciality Engineering di Flintridge dan Kebin Baines dari University of Wisconsin-Madison berdasarkan hasil riset mengungkapkan bahwa Jupiter dan Saturnus mengalami hujan berlian.

Keduanya memaparkan hasil penelitiannya di pertemuan divisi Ilmu Keplanetan pada American Astronomical Society yang berlangsung di Denver, Colorado, Senin (8/10/2013) lalu.

Menurut dua peneliti itu, seperti diberitakan Nature, Rabu (9/20/2013), petir merombak metana yang terdapat di atmosfer Saturnus dan Jupiter, kemudian membebaskan atom karbon penyusunnya.

Atom karbon yang dibebaskan kemudian berikatan satu sama lain, membentuk jelaga. Ketika semakin turun ke bawah lapisan atmosfer, karena suhu dan tekanan yang lebi tinggi, jelaga berubah menjadi grafit dan selanjutnya menjadi berlian.

Semakin turun, suhu di Jupiter dan Saturnus bisa mencapai 8.000 derajat celsius. Berlian yang semula padat bisa berubah menjadi cair, menjelma sebagai hujan berlian.

Baine mengatakan, di Saturnus, berlian bisa terbentuk pada kedalaman atmosfer 6.000 hingga 30.000. Menurutnya, Saturnus bisa menghasilkan 10 juta ton berlian dengan sebagian besar ada dalam bentuk batuan yang ukurannya tak lebih dari satu milimeter.

"Kalau Anda punya robot di sana, robot itu cukup duduk dan akan mengoleksi berlian yang berjatuhan," kata Baines.

Dalam pandangan dua Baines dan Delitsky, pada tahun 2049, manusia bisa mengoleksi berlian di Saturnus dan menggunakannya untuk membuat wahana superkuat guna mengambil helium 3 untuk bahan bakar.

Menanggapi penelitian Baines dan Delitsky, David Stevenson dari California Institute of Technology mengatakan bahwa dirinya meragukan riset itu.

Menurutnya, metana di Jupiter dan Saturnus rendah, hanya 0,2 dan 0,5 persen. Jadi, seperti gula dan garam dalam air, bila jelaga terbentuk, maka hanya akan larut dalam atmosfer dua planet yang kaya akan gas-gas lain itu.

Sementara, Luca Ghiringhelli, menuturkan bahwa terlalu prematur untuk mengatakan bahwa berlian bisa terbentuk di Jupiter dan Saturnus. Sebabnya, metana di dua planet itu tak sebanyak di Uranus dan Neptunus.
Sumber: kompas

Friday, April 12, 2013

Did you know? | Meteorit Hijau di Maroko Diduga dari Planet Merkurius

Meteorit hijau yang ditemukan di Moroko tahun 2012 lalu diduga berasal dari planet Merkurius.

Did you know? | TEXAS — Meteorit berwarna hijau yang ditemukan di Moroko pada tahun 2012 lalu diduga berasal dari Planet Merkurius. Dugaan ini muncul karena karakteristik meteorit tersebut berbeda dengan karakteristik meteorit lainnya yang jatuh ke Bumi dan mirip dengan karakteristik planet terdekat dengan Matahari dalam sistem tata surya kita itu.

Hal tersebut disampaikan oleh Anthony Irving, profesor ilmu tentang bumi dan luar angkasa dari University of Washington, AS, dalam acara 44-th annual Lunar and Planetary Science Conference di Woodland, Texas.

"Ini mungkin sebuah sampel yang berasal dari Merkurius atau dari benda lain yang lebih kecil dari Merkurius, tapi karakteristiknya mirip seperti Merkurius," kata Irving sebagaimana dikutip Space.com, Kamis (28/3/2013) lalu.

Ia menambahkan, suatu tumbukan kuat telah melemparkan meteorit hijau ini ke bumi. Selain itu, meteorit ini berusia sangat tua. Irving dan timnya memperkirakan usia batu luar angkasa ini mencapai 4,56 miliar tahun.
Sumber: Spacedotcom
Editor : Kompas

Monday, January 28, 2013

Did you know? | Inilah Foto Pertama Mars pada Malam Hari

Wahana Curiosity menangkap foto pertama Mars pada malam hari pada Selasa (22/1/2013).

Did you know? | CALIFORNIA - Wahana antaraiksa Curiosity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) memotret tanah Mars pada malam hari. Foto yang dihasilkannya menjadi foto pertama panorama Mars malam hari.

Objek yang difoto oleh Curiosity adalah sebuah batu yang disebut "Sayunei". Batu itu telah dicukil sebelumnya oleh Curiosity

Curiosity menjepret Sayunei dalam cahaya tampak dan ultraviolet. Untuk memotret, wahana itu memakai Mars Hand Lens Imager (MAHLI) yang tertancap di lengannya. Sumber cahaya LED dari kamera itu digunakan untuk mendukung pemotretan pada malam hari.

"Tujuan observasi di bawah cahaya ultraviolet adalah untuk mencari adanya mineral fluoresens," kata Ken Edgett dari Malin Space Science System di San Diego, pimpinan investigasi MAHLI.
Sumber: Space.com
Editor: Kompas

Thursday, January 24, 2013

Did you know? | Ada Sungai Amazon di Mars?

Citra sungai di Mars beserta gunung setinggi 2500 meter dan kawah tumbukan.

Did you know? | PARIS — Wahana Mars Express milik European Space Agency (ESA) menangkap citra sungai di Mars, tepatnya wilayah yang disebut lembah Reull Vallis. Sungai itu membelah dataran Promethei Terra Highlands sebelum akhirnya mengalir ke cekungan Hellas.

Sungai tersebut memiliki banyak anak sungai. Citra ESA yang kini juga dirilis dalam format 3D menunjukkan setidaknya satu anak sungai. Dalam citra ESA, ditunjukkan pula bahwa sungai itu ada di sebelah gunung yang menjulang setinggi 2.500 meter dan kawah tumbukan yang besar.

Seperti diberitakan Red Orbit, Jumat (18/1/2013) lalu, ESA menyatakan bahwa sungai itu memiliki panjang hingga 1.500 km. Di wilayah Reull Vallis, struktur serupa sungai itu sudah memiliki lebar 6,4 km dan kedalaman 300 meter. Sungai itu besar bagai Amazon di Bumi.

Menurut ESA, struktur sungai itu terbentuk oleh adanya aliran air. Waktu pembentukannya adalah pada periode Hesperian, sekitar 1,8-3,5 juta tahun lalu. Dipercaya, saat itu Mars lebih basah dari saat ini sehingga memiliki es maupun air.

Bagi ilmuwan ESA, struktur sungai dan lingkungan sekitarnya memiliki kemiripan dengan wilayah Bumi yang mengalami periode glasial. Pemahaman tentang pembentukan sungai serta kondisi yang telah dilaluinya membantu ilmuwan menguak evolusi Planet Mars.
Sumber: Red Orbit
Editor: Kompas

Sunday, January 20, 2013

Did you know? | Bukit Pasir Mempermuda Kawah di Titan


Ilustrasi bukit pasir di Titan, bulan milik Saturnus.
Did you know? | Bulan terbesar di planet Saturnus, Titan, mengalami proses "muda" kembali setelah sebagian besar kawahnya tertutup bukit pasir. Menurut pemantauan yang dilakukan wahana milik NASA, Cassini, pasir hidrokarbon di permukaan Titan, perlahan tapi pasti, menutup kawah.

Mayoritas dari satelit milik Saturnus memiliki ribuan kawah. Sedangkan dari 50 persen permukaan Titan yang diobservasi, hanya ditemui 60 kawah. Ini membuat para pakar sulit memperkirakan berapa tepatnya usia Titan. Karena kawah yang lebih banyak, artinya makin tua pula sebuah planet atau satelit.

Neish dan kolega biasanya memperkirakan usia sebuah planet dengan menghitung jumlah kawah di atas permukaannya. "Tapi proses seperti erosi atau bukit pasir yang mengisinya (kawah), sangat mungkin jika permukaannya jauh lebih tua dari yang terlihat," tambah Neish yang juga menulis makalah soal ini dalam jurnal Icarus pada 3 Desember 2012.

Titan adalah satu-satunya bulan dalam sistem tata surya manusia dengan atmosfer tipis. Satu-satunya pula benda langit selain Bumi yang diketahui memiliki danau dan laut di permukaannya.

Meski demikian, Titan memiliki suhu ekstrem bagi manusia. Di mana suhu permukaannya mencapai minus 178 Celcius. Hujan yang turun di Titan pun bukanlah air, melainkan metana dan etana cair, senyawa yang biasanya menjadi gas di Bumi.

Neish dan timnya menyimpulkan penemuan ini setelah membandingkan kawah di permukaan Titan dengan salah satu bulan milik Jupiter, Ganymede. Bulan terakhir disebut hampir mirip Titan dan memiliki kerak es.
Sumber: National Geographic Indonesia
Editor: Kompas

Did you know? | Struktur Aliran Sungai di Planet Mars

Permukaan planet Mars. Nationalgeographic.com

Did you know? | Jakarta - The European Space Agency (ESA) merilis serangkaian gambar menakjubkan yang menunjukkan sisa-sisa sungai besar di planet Mars.

Posisi aliran sungai ini memotong saluran curam dari sisi Promethei Terra Highlands. Struktur aliran sungai tersebut menakjubkan, yang membentang sepanjang hampir 1.500 kilometer di seluruh lanskap Mars.

Struktur ini diapit oleh banyak anak sungai, salah satunya dapat dilihat dengan jelas memotong ke lembah utama menuju sisi utara (atas).

Para ahli mengatakan bahwa gambar tersebut menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan morfologi lanskap yang ditemukan di bumi. Lanskap di bumi ini dipengaruhi oleh glaciation.

Ilmuwan planet berpikir bahwa ini mungkin air atau tingkat glasial yang tinggi sebelum es dan air disublimasi atau menguap pergi secara bertahap. Salah satu gambar yang menakjubkan adalah sebuah wilayah Reull Vallis pada suatu titik di mana terdapat saluran selebar 7 kilometer dengan kedalaman 300 meter.

Struktur ini diyakini disebabkan oleh bagian dari puing-puing longgar dan es selama periode "Amazon" yang berlanjut hingga hari ini. Struktur yang terbentuk lama setelah itu awalnya diukir oleh air cair selama periode Hisperian yang diyakini telah berakhir antara 3,5 miliar dan 1,8 miliar tahun yang lalu.
Sumber: Tempo

Monday, January 14, 2013

Did you know? | NGC 6872, Galaksi Terbesar di Alam Semesta

Galaksi Andomeda

Did you know? | Greebelt - Galaksi yang terletak 212 juta tahun cahaya di selatan rasi Pavo dinobatkan sebagai galaksi spiral terbesar di alam semesta. Ukuran galaksi NGC 6872 ini lima kali lebih besar daripada galaksi Bimasakti tempat tinggal kita.

Bintang-bintang di dalam galaksi ini berkumpul membentuk dua palang cahaya yang membentang sepanjang 522 ribu tahun cahaya. Bandingkan dengan galaksi Bimasakti yang membentang 100 ribu tahun cahaya saja.

Selama beberapa dekade, ilmuwan telah mengetahui galaksi ini berukuran besar. Namun baru pada Kamis, 10 Januari 2013, galaksi ini dinobatkan sebagai yang terbesar dibandingkan galaksi raksasa lain.

Konfirmasi didapat melalui wahana antariksa Galaxy Evolution Explorer Spacecraft (GALEX) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Ukuran yang besar dan penampilan dua batang cahaya yang nyentrik berdampak pada gravitasinya yang amat besar. Gaya tariknya itu menyebabkan galaksi ini seolah sedang berdansa dengan galaksi IC 4970 yang berada di dekatnya.

Simulasi komputer menunjukkan IC 4970 yang 80 persen lebih ringan pernah bersenggolan dengan NGC 6872 sekitar 130 juta tahun lalu. Senggolan ini menyebabkan ledakan di galaksi raksasa.
Sumber: Tempo

Friday, January 11, 2013

Did you know? | Orbit Tak Lazim, Planet 'Zombie' Bangkit Lagi


Did you know? | Berkeley-Planet ini pernah disangka mati kini hidup kembali. Orbitnya sangat tidak lazim.

Fomalhaut B namanya. Pertama kali terlihat pada 2008 melalui Advanced Camera for Surveys yang terpasang pada Teleskop Antariksa Hubble.

Planet mengorbit pada bintang berselimut kabut bernama Fomalhaut yang berada 25 tahun cahaya di rasi Piscis Austrinus. Penemuan tersebut menghebohkan karena juga tercatat sebagai planet ekstrasolar pertama yang dipotret pada cahaya tampak.

Namun umurnya amat singkat. Pada awal 2012, astronom mengubur Fomalhaut B karena dianggap tak pernah hadir di dunia.

Kamera inframerah milik Teleskop Antariksa Spitzer gagal menangkap kehadiran planet ini. Foto empat tahun sebelumnya dianggap hanya awan debu raksasa di sekitar bintang.

Foto terbaru dari Hubble Space Telescope kembali membangkitkan Fomalhaut B. Planet raksasa dengan massa 3 kali lebih besar dari Jupiter tampak melayang di antara kabut pada foto tersebut. Nama "zombie" pun disematkan untuk planet ini.

Foto Hubble juga menyingkap fakta lain: kabut yang mengelilingi bintang induk lebih besar dari yang terlihat sebelumnya. Pengamatan menunjukkan kabut membentang antara 23-32 miliar kilometer.

Lebih mengejutkan lagi, Fomalhaut b berputar sambil menembus kabut tebal ini. Jarak terdekat Fomalhaut b dengan bintang induk adalah 7,4 miliar kilometer dan berada 43,4 miliar kilometer pada saat terjauh. Jika digambarkan di langit, pergerakannya berbentuk elips. Sekali mengelilingi bintang induk, Fomalhaut b membutuhkan waktu 2 ribu tahun.
Sumber: space.com
editor: kompas

Thursday, January 10, 2013

Did you know? | Di Luar Angkasa Manusia Lebih Jangkung


International Space Station (ISS)
Did you know? | CALIFORNIA — Aneh tapi nyata. Manusia ternyata menjadi lebih jangkung ketika
berada di antariksa. Paling tidak, inilah yang terjadi pada astronot yang kini sedang menjalankan misi di International Space Station (ISS).

Tinggi badan para astronot bisa bertambah hingga 5 cm. Penyebabnya adalah pemanjangan tulang belakang akibat pengaruh gravitasi. Pertambahan tinggi ini tak selamanya. Saat kembali ke Bumi, tinggi badan astronot akan kembali seperti semula.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) kini memiliki perangkat ultrasonik untuk melihat pengaruh mikrogravitasi pada tulang belakang. Perangkat ini memungkinkan ilmuwan meneliti lebih detail mekanisme bagaimana pertambahan tinggi terjadi.

Mulai bulan ini, perangkat ultrasonik itu akan dipakai. Ilmuwan akan mengevaluasi astronot setiap periode 30, 90, dan 150 hari setelah berada di antariksa. Astronot sendiri biasanya menjalani satu misi ke ISS selama 6 bulan.

Perangkat ultrasonik juga akan dipakai untuk melakukan studi jangka panjang dampak lingkungan mikrogravitasi pada dinamika tubuh astronot yang bertugas.
sumber: space.com
editor: kompas

Tuesday, January 8, 2013

Did you know? | Erupsi Matahari setara 20 kali Diameter Bumi


Citra erupsi Matahari pada 31 Desember 2012 yang ditangkap kamera Solar Dynamics Observatory.
Did you know? | CALIFORNIA — Erupsi Matahari bisa menelan 20 Bumi sekaligus. Demikian publikasi terbaru Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Erupsi Matahari terakhir terjadi pada malam tahun baru 2013, Senin (31/12/2012) lalu. Erupsi tersebut berhasil diabadikan oleh kamera Solar Dynamics Observatory, wahana yang terus memantau aktivitas bintang induk di Tata Surya itu.

"Jangkauan erupsi bisa mencapai 160.000 mil (257.495 km) keluar dari Matahari. Dengan diameter Bumi 7.900 mil (12.714 km), erupsi minor tersebut (malam tahun baru lalu) mencapai sekitar 20 kali diameter planet kita," demikian diungkapkan NASA dalam rilisnya, Jumat (4/1/2013).

Apakah Bumi benar akan terlumat oleh erupsi Matahari itu? Jarak Bumi-Matahari sekitar 150 juta km. Jadi, erupsi takkan serta-merta melumat Bumi.

Alasan lain, gravitasi Matahari juga berperan dalam mengendalikan dampak erupsi. "Gaya magnet berperan dalam aliran plasma. Tanpa gaya yang cukup untuk melawan gravitasi Matahari, kebanyakan plasma akan kembali ke Matahari," tambah NASA seperti dikutip Space, Senin (7/1/2013).
Sumber: Space.com
Editor: Kompas

Thursday, January 3, 2013

Did you know? | Wajah Mars di Masa Lalu?


Did you know? | Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Mars di masa lalu lebih basah dan memiliki air. Seperti apa wajah Mars kala itu? Apakah merah seperti saat ini atau biru seperti Bumi?

Kevin Gill, seorang pengembang aplikasi, menciptakan ilustrasi wajah Mars jutaan tahun yang lalu berdasarkan data-data dari misi Mars Reconaissance Orbitter. Mars tampak kebiruan.

Dalam hasil ilustrasi Gill, tampak adanya samudera di Mars dengan lembah terpanjang di tata surya, Vallis Marineris.

Tampak di sisi barat bola Mars (kanan pada gambar), pouncak-puncak tertinggi di planet merah, yaitu Olympus Mons, Pavonis Mons, Ascraeus Mons, dan Arsia Mons.

Ilustrasi menunjukkan, wilayah lintang tinggi Mars kering dan tak memiliki vegetasi, sementara wilayah lintang rendah lebih basah dan hijau.

Gill mengakui, ilustrasinya mungkin tidak begitu tepat. Meskipun demikian, hasilnya tetap menarik. Upaya Gill adalah pertama dalam menggambarkan Mars masa lalu.
Sumber: Kompas

Sunday, December 30, 2012

Did you know? | Fenomena Astronomi Paling Spektakuler 2012

Puncak Transit Venus 2012 diambil dari Planetarium Jakarta dengan kamera Nikon D 3000.
Did you know? | Tahun 2011 lalu, beragam fenomena astronomi spektakuler terjadi, mulai dari Supermoon yang sebenarnya biasa, tetapi menghebohkan, hingga bulan berwarna kebiruan di Gombong yang terjadi saat gerhana bulan total. Dari sekian fenomena yang terjadi, ada lima yang paling spektakuler. Apa saja?

Transit Venus

Transit Venus adalah saat di mana Venus berada di antara Bumi dan Matahari. Venus tampak sebagai titik hitam di muka Matahari dilihat dari sudut pandang manusia di Bumi. Fenomena ini terjadi pada 6 Juni 2012 lalu. Tergolong langka, transit Venus baru akan terjadi 105 tahun lagi.

Gerhana Bulan Penumbra

Gerhana bulan penumbra tergolong lebih langka dari gerhana bulan biasanya karena Gerhana ini tidak tampak seperti gerhana, yang tidak terjadi setiap tahun.

Gerhana bulan penumbra terjadi pada 28 November 2012. Bulan berada di wilayah penumbra Bumi. Bulan tidak tampak memerah seperti gerhana bulan total. Karena itu, manusia tak menyadarinya.

Hari Tanpa Bayangan Matahari

Secara sederhana, fenomena ini bisa dijelaskan dengan eksperimen jam Matahari. Biasanya, saat tongkat ditancapkan ke tanah, ada bayangan tongkat. Pada tengah hari saat hari tanpa bayangan Matahari, bayangan tongkat itu tak ada ataupun sangat pendek.

Fenomena ini terjadi karena gerak semu tahunan Matahari. Sekitar tanggal 21 Maret dan 23 September, Matahari tepat berada di khatulistiwa. Saat Matahari ada di wilayah itu, wilayah di bawahnya akan mengalami hari tanpa bayangan Matahari.

Badai Matahari Terkuat

Badai Matahari terkuat sejak tahun 2005 terjadi pada 24 Januari 2012. Ledakan yang terjadi adalah kelas M-9, mendekati level tertinggi. Lontaran massa korona bergerak menuju Bumi dengan kecepatan 2.200 km/detik.

Meski cukup kuat, badai Matahari tak menimbulkan dampak serius seperti yang diisukan. Badai ini hanya sempat membutakan satelit yang mengorbit planet Venus. Puncak badai Matahari diperkirakan pada pertengahan 2013.

Gerhana Bulan Supermoon

Gerhana Bulan Supermoon sebenarnya adalah gerhana bulan biasa yang terjadi saat posisi Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi. Gerhana ini terjadi pada 4 Juni 2012. Jarak Bulan-Bumi sekitar waktu gerhana supermoon adalah 358.482 kilometer.
Sumber: Kompas

Saturday, December 29, 2012

Did you know? Ini yang Bikin Indonesia "Wow" di Tahun 2012

Ilsutrasi tata surya tertua dengan bintang induk bernama HIP 11952 atau
"Sannatana" dan dua planet gas raksasa.
 

Did you know | Apa yang membuat Indonesia bisa dikatakan "wow"? Salah satunya adalah temuan, inovasi, ataupun keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam penelitian yang hasilnya diakui dunia internasional.

Tahun 2012 ini, beberapa ilmuwan Indonesia berhasil memberikan sumbangan terbaik dalam ilmu pengetahuan. Setidaknya, ada empat temuan, inovasi, dan keterlibatan ilmuwan Indonesia yang membanggakan. Apa saja?

Temuan Tata Surya Tertua

Astronom Indonesia yang sempat berkarya lebih dari 10 tahun di Max Planck Institute for Astronomy, Heidelberg, Jerman, Johny Setiawan, menemukan tata surya tertua, berusia 12,8 miliar tahun, hanya 900 juta tahun lebih muda dari Big Bang.

Induk tata surya tersebut adalah bintang bernama HIP 11952 atau Sannatana (bahasa Sansekerta, berarti purba). Tata surya tersebut diketahui memiliki dua planet, masing-masing dinamai HIP 11952 b dan HIP 11952 c. Kedua planet adalah jenis planet gas raksasa.

Tata surya ini bisa dikatakan anomali. Kandungan logam pada bintang induk tata surya ini hanya 1 persen kandungan logam Matahari. Anggapan selama ini hanya bintang dengan kandungan logam tinggi yang bisa memiliki planet. Temuan ini menunjukkan planet yang mengorbit bintang miskin logam mungkin umum.

UAV Terbesar di Asia Berhasil Terbang Perdana

UAV terbesar di Asia, Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1), berhasil dikembangkan oleh ilmuwan Indonesia, Josaphat tetuko Sri Sumantyo. Pengembangan dilakukan di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Chiba University, Jepang.

JX-1 memiliki keunggulan sebab ukurannya sebesar 6 meter dan punya payload sensor hingga 30 kg. Ruang besar pada UAV dipersiapkan untuk menampung beragam macam sensor. JX-1 juga unggul sebab dirancang tembus gelombang mikro dengan material badan pesawat berkarakteristik mendekati udara.

UAV ini berhasil diterbangkan perdana pada 7 Juni 2012 di Fujikawa Airfield. UAV ini nantinya akan menjadi tulang punggung riset penginderaan jauh. Malaysia dan Jepang sudah meminati teknologi ini.

Ilmuwan Indonesia Memburu Partikel Tuhan

Salah satu lompatan terbesar dalam fisika partikel pada tahun 2012 adalah penemuan partikel yang "mirip" Higgs Boson (partikel Tuhan). Penemuan oleh Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) ini diumumkan pada 4 Juli 2012 di Jenewa, Swiss.

Ilmuwan Indonesia, Suharyo Sumowidagdo, ternyata juga terlibat perburuan Higgs Boson. Ia terlibat dalam pengoperasian dan pemeliharaan detektor muon pada eksperimen Compact Muon Solenoid (CMS), salah satu eksperimen CERN untuk membuktikan eksistensi Higgs Boson.

Haryo adalah satu di antara segelintir fisikawan Indonesia yang menekuni fisika eksperimental. Lain dengan fisika teoretik, fisika eksperimental berupaya mencari keberadaan suatu partikel yang sudah dirumuskan dalam suatu teori.

Bayi Badak Sumatera "Andatu" Lahir

Indonesia punya prestasi dalam pembiakan badak Sumatera pada tahun 2012. Badak Sumatera bernama Andatu akhirnya berhasil dilahirkan dari pasangan badak jantan asal Kebun Binatang Cincinati, Andalas, dan badak Sumatera betina di Lampung, Ratu.

Keberhasilan pembiakan badak Sumatera telah ditunggu dunia selama 124 tahun. Badak Andalas selanjutnya akan dikawinkan lagi dengan dua badak betina lainnya. Keberhasilan konservasi badak Jawa selanjutnya ditunggu.

Indonesia Nenek Moyang Penduduk Madagaskar

Hasil studi Murray Coz dari Massey university di Selandia Baru mengungkap bahwa perempuan Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar. Studi dipublikasikan di jurnal Proceeding of the Royal Society B, 21 Maret 2012.

Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil studi DNA dari 2.745 orang Indonesia dari 12 kepulauan serta 266 etnis Malagasi. Data dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Indonesia turut mendukung studi ini.

Sejak lama, Indonesia diduga memiliki keterkaitan dengan Madagaskar. Dari sisi bahasa, bahasa Madagaskar mirip dengan bahasa Dayak Ma'anyan. Temuan ini membuat proses kolonisasi Madagaskar perlu dipikirkan kembali.

Did you know? | Kecepatan Gravitasi Setara Kecepatan Cahaya

Ilustrasi gravitasi Matahari. Image credit: google

Did you know? | Rabu 26 Desember 2012 lalu, sekelompok ilmuwan China mengumumkan bahwa mereka telah menemukan bukti yang mendukung hipotesis bahwa gravitasi bergerak pada kecepatan cahaya. Bukti tersebut ditemukan saat ilmuwan mengamati pasang surut Bumi. Sebelumnya para ilmuwan mencoba untuk mengukur kecepatan gravitasi selama bertahun-tahun melalui berbagai eksperimen dan pengamatan, namun hanya sedikit hal yang didapat.

Ilmuwan China yang dipimpin oleh Tang Keyun yang merupakan seorang peneliti di Chinese Academy of Sciences (CAS) menggunakan enam pengamatan gerhana Matahari dan Bulan serta pasang surut Bumi menemukan bahwa rumus pasang surut Newtonian behubungan dengan penyebaran gravitasi. "Pasang surut" Bumi mengacu pada perubahan kecil dipermukaan Bumi yang disebabkan oleh gravitasi Bulan dan Matahari.

Berdasarkan data yang diperoleh dari China Earthquake Administration dan Universitas CAS ditemukan bahwa gaya gravitasi dilepaskan dari Matahari dan gaya gravitasi selanjutnya direkam di stasiun pengamatan di dalam Bumi dan diketahui bahwa kecepatan gravitasi tidak berjalan pada kecepatan yang sama.

Dari hasil pengamatan di dapatkan bahwa kecepatan gravitasi adalah 0.93-1,05 kali kecepatan cahaya dengan kesalahan relatif sekitar 5 persen dan itu menunjukkan bahwa perjalanan atau kecepatan gravitasi bergerak pada kecepatan cahaya.
Sumber: Astronomi

Wednesday, December 26, 2012

Did you know? | Nautilus-X, Pesawat NASA Dengan Mesin Gravitasi

Nautilus-X. Image credit: PhysOrg

Nautilus-X. Image credit: PhysOrg
Nautilus-X. Image credit: PhysOrg
Nautilus-X. Image credit: PhysOrg
Did you know? | Physorg - Nautilus-X merupakan sebuah wahana pesawat luar angkasa NASA yang ditujukan untuk misi jangka panjang ke Bulan atau planet Mars. Pesawat ini dirancang dan diusulkan oleh Bigelow Aerospace dan mampu menampung 6 orang awak pesawat.
Menurut informasi NASA, pesawat ini merupakan pesawat yang dibuat dengan biaya yang relatif murah yaitu sekitar $3,5 miliar dan membutuhkan waktu pengerjaan selama 64 bulan.

Wahana ini juga sekaligus sebagai stasiun transit jika NASA ingin melakukan eksplorasi ke tata surya jauh. Mirip seperti ISS bedanya ISS bukanlah pesawat luar angkasa mandiri.

Pesawat Nautilus-X didesain dengan desain modular dilengkapi dengan port docking untuk kapsul seperti Orion atau kapsul luar angkasa lainnya. Selain itu ada berbagai macam perlengkapan lainnya seperti solar array, tangki penampung air dan hidrogen yang dapat mengurangi bahaya radiasi kosmik bagi kru astronot, sistem komunikasi, sistem propulsi, cincin sentrifugal sebagai mesin untuk menciptakan gravitasi parsial dan sebagainya.

Untuk menguji pengaruh dan efek cincin sentrifugal terhadap manusia, maka mesin tersebut akan terlebih dahulu diuji coba di ISS.

Namun sampai saat ini Nautilus-X masih sekedar konsep dan peluncurannya pun masih belum diketahui dengan pasti.
Sumber: Physorg
Editor: Astronomi

Sunday, December 23, 2012

Did you know? | Bukan 21-12-2012, Lalu Kapan Kiamat Bakal Terjadi?


Did you know? | Prediksi kiamat selalu dibuat sepanjang peradaban manusia. Sejauh ini, prediksi selalu meleset. Namun, entah dengan prediksi kiamat pada Jumat (21/12/2012) besok. Lalu, kapan sebenarnya kiamat akan terjadi dan segalanya akan berakhir?

Jika kiamat dimaknai sebagai proses berakhirnya semesta, bukan sekadar berakhirnya kehidupan di Bumi, maka kiamat masih akan terjadi triliunan atau bahkan kuadriliunan tahun lagi. Ada sekian proses yang mendahului sebelum segalanya berakhir.

Ditinjau dari sudut pandang manusia, paling dekat adalah mempertanyakan, kapan batas akhir eksistensi manusia. Menurut astrofisikawan Brandon Carter, spesies manusia akan punah sekitar 11.000 tahun lagi, jauh sebelum semesta berakhir.

Setelah manusia kiamat, kehidupan Bumi masih akan terus berlangsung. Bisa jadi, Bumi dikuasai oleh makhluk serupa kecoa dan tikus yang memenangkan seleksi alam.

Kehidupan di Bumi akan berlangsung hingga Matahari menua, menjadi bintang raksasa merah dengan radius mencapai Bumi. Saat itu, Bumi akan sangat panas. Makhluk multiseluler akan punah, dan setelah beberapa lama, mikroba pun tak mampu hidup. Ini akan berlangsung 5 miliar tahun lagi.

Setelah kematian makhluk hidup, Bumi pun akan mati. Salah satu skenario, Matahari akan terus mengembang. Orbit Bumi akan menjadi lebih dekat dengan Matahari. Akhirnya, sekitar 7,5 miliar tahun lagi, Bumi akan musnah dilahap bintangnya sendiri.

Setelah menjadi bintang raksasa merah, Matahari pun akhirnya kehabisan energi. Sekitar 1 triliun tahun dari sekarang, Matahari akan mati.

Proses kematian Matahari didahului dengan perubahannya menjadi bintang katai putih. Matahari kehabisan hidrogen sehingga mulai memakai helium, oksigen, dan karbon untuk reaksi fusi. Pada akhirnya, semuanya akan habis. Matahari menjadi bintang katai hitam, dingin dan mati.

Kalau Matahari mati, bagaimana dengan tata surya? Tentu saja, tata surya akan mati. Waktunya takkan jauh dari saat Matahari mati.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science pada 22 Desember 2006 menyebutkan adanya planet yang mengitari bintang mati. Meski demikian, jika bintang mati, maka orbit planet pun akan berubah. Planet bisa saling bertumbukan. Beberapa planet keluar dari sistem.

Sekian skenario bisa jadi berbeda. Bimasakti akan bertabrakan dengan galaksi Andromeda, membentuk galaksi baru yang oleh para ilmuwan disebut Milkomedia. Ketika terjadi penggabungan, beberapa bintang mungkin terlempar keluar galaksi.

Dalam waktu selanjutnya, semesta akan kehabisan debu dan gas bahan baku bintang. Tak ada bintang baru yang lahir.

Sekitar 100 triliun tahun dari sekarang, bintang terakhir akan mati. Semua bintang menjadi katai hitam. Masa ini bisa disebut kiamat bintang.

Semua obyek nantinya akan dihisap oleh lubang hitam. Namun, lubang hitam itu sendiri tidak abadi. Stephen Hawking menyebut, lubang hitam bisa menguap. Saat hal itu terjadi pada 10(100) tahun mendatang, kiamat lubang hitam akan terjadi.

Saat lubang hitam pun akhirnya mati, maka semesta ada pada titik terdekatnya dengan kiamat segalanya. Belum diketahui apa yang akan terjadi setelahnya, apakah akan terjadi Big Bang untuk membentuk semesta baru lagi atau semesta memang akan berakhir.
Sumber :Universe Today
Editor: Kompas

Did you know? | Turbulensi Mampu Menghangatkan Angin Matahari





Did you know? | Secara kontinyu Matahari menyemburkan partikel bermuatan listrik dan medan magnet dalam bentuk angin Matahari atau angin surya (Solar Wind).

Badai plasma atau angin Matahari tersebut bergerak dan menghempas seluruh daerah di tata surya bahkan hingga mencapai batas dengan ruang antar bintang.

Plasma Matahari mendingin selama perjalanan ke luar dari Matahari namun proses pendinginan tersebut lebih lama dari seharusnya bahkan plasma Matahari akan memanas saat sampai di orbit Jupiter.

Bumi dan planet lain di tata surya mengorbit Matahari dengan melewati hempasan badai plasma (angin Matahari) yang terdiri dari proton dan elektron. Badai plasma ini bergerak dengan kecepatan rata-rata 400 km per detik yang berarti 1,5 juta km per jam. Badai plasma keluar dari Matahari akibat tarikan dari medan magnet Matahari itu sendiri.

Salah satu yang menjadi pertanyaan para ilmuwan adalah mengapa angin Matahari memiliki suhu yang lebih panas dari yang seharusnya?. Dan nampaknya studi baru yang dilakukan oleh ESA dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaannya mengapa bisa seperti itu? padahal plasma Matahari itu melewati ruang kosong yang jauh dan jarangnya plasma tersebut bertabrakan dengan partikel lain.

Salah satu kemungkinan adalah terjadinya turbulensi plasma yang terjadi akibat penyimpangan aliran partikel dan medan magnet. Akibat interaksi keduanya maka akan menghasilkan  formasi tertentu yang mengandung arus listrik yang kemudian tertarik menuju ke medan magnet.

Plasma tersebut tidak hanya mengisi ruang kosong tapi juga ke tempat di mana medan magnet terhubung dan terputus yang kemudian secara simultan mentransfer energi dan memanaskan partikel.
Sampai saat ini mekanisme dan skala dari proses tersebut masih tidak menentu.

Namun dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa turbulensi plasma terjadi di magnetosheat disebut juga dengan bow shock yaitu wilayah kejut berbentuk busur di mana angin Matahari memenuhi medan magnet Bumi dan megnetosfer sehingga menghasilkan gelembung magnetic (magnetic bubble).
Sumber: Astronomi

Wednesday, December 19, 2012

Did you know? | Kiamat dalam Perspektif Kosmologi


Did you know? | JAKARTA — Isu kiamat yang bermula dari pemahaman akan penanggalan suku Maya merebak dalam beberapa tahun terakhir. Jumat (21/12/2012) dikatakan sebagai hari akhir ketika Bumi akan mengalami kehancuran dan makhluk hidup di dalamnya akan musnah. 

Beberapa kalangan yang percaya akan ramalan tersebut menyusun berbagai persiapan. Ada yang membuat bahtera Nuh di China hingga menyiapkan ritual khusus. Sementara kalangan ilmuwan membantah bahwa kiamat akan terjadi Jumat nanti. Kiamat 2012 adalah kesalahan interpretasi.

Satu hal yang masih akan tetap mengusik walaupun kiamat 2012 tak terjadi adalah, apakah memang akan ada hari kiamat. Bagaimana ilmu pengetahuan, khususnya kosmologi, menerangkan satu peristiwa yang paling membuat umat manusia penasaran ini?

Premana W Premadi, peneliti bidang kosmologi dari Jurusan Astronomi, Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, kiamat bisa diterangkan tergantung pada pemahaman manusia akan peristiwa kiamat itu sendiri.

Dalam skala lebih luas, kehancuran mungkin bisa terjadi sekitar 7 miliar tahun lagi. "Saat itu, galaksi Andromeda akan bertabrakan dengan Bimasakti. Tapi, ini juga hanya di Bimasakti. Semesta memiliki ribuan galaksi," ungkap Nana.

Triliunan tahun kemudian, astronom telah memprediksikan bahwa semesta akan sangat tua. "Triliunan tahun kemudian, bintang terakhir akan berhenti bersinar karena kehabisan bahan bakarnya," tutur Nana saat dihubungi Kompas.com, Selasa (18/12/2012).

Nana mengungkapkan, semesta akan terus mengembang. Saat itu, laju pertumbuhan bintang hampir mendekati nol, tak ada bintang baru yang lahir. Ketika bintang terakhir mati, Nana mengatakan, "Saat itu mungkin juga bisa dikatakan kiamat, meskipun tidak yang meledak-ledak."

Apa yang akan terjadi setelah bintang terakhir "padam" nanti? Hingga saat ini, masih sulit untuk memperkirakannya, apakah akan ada proses di mana semesta baru tercipta atau akan terjadi semacam "daur ulang" dari semesta saat ini. 

"Ada teori yang mengungkapkan bahwa semesta dapat berkembang dan pada suatu titik kolaps lagi," kata Nana. Jika hal ini terjadi, maka semesta yang akan dapat mampat lagi dan bintang-bintang baru dapat tercipta. Semesta yang semula mengalami "kiamat" bisa hidup lagi.

Namun, Nana mengungkapkan bahwa teori tersebut kurang didukung. Sejauh ini, dipercaya bahwa semesta akan terus-menerus mengembang tanpa batas. Pada saatnya nanti, semesta akan menjadi sangat dingin dan gelap.
Sumber : Kompas

Saturday, December 15, 2012

Did you know? | 17-12-12, 2 Satelite akan Dijatuhkan di Bulan


Ilustrasi dua wahana satelit GRAIL sedang mengorbit Bulan.
Did you know? | Dua wahana satelit pengorbit Bulan yang disebut dengan Gravity Recovery and Interior Laboratory (GRAIL) akan dijatuhkan oleh NASA ke permukaan Bulan dikarenakan bahan bakar pada kedua wahana tersebut hampir habis. Apabila semua berjalan sesuai dengan rencana, NASA akan menjatuhkan kedua satelit kembar tersebut pada 17 Desember 2012 mendatang.
Untuk proses tersebut, NASA tidak akan sembarangan menjatuhkan, akan tetapi NASA akan menjatuhkan pada tempat yang dapat dipantau dan dilihat oleh wahana LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter).

Maria Zuber selaku Principal Investigator pada misi ini mengatakan bahwa pihaknya harus melakukan sekitar 3 manuver setiap hari agar wahana GRAIL tidak jatuh sendiri ke permukaan Bulan.
 
Dua wahana kembar tersebut di turunkan tingkat ketinggiannya dari yang semula 55 km di atas permukaan Bulan menjadi 23 km dan pada awal minggu ini kembali diturunkan menjadi 11 km.

Wahana GRAIL sendiri diluncurkan pada 10 September 2011 dengan menumpang roket Delta II dari 
Cape Canaveral Air Force Station.

Sumber: Astronomi

Friday, December 7, 2012

Did you know? | Inilah Foto Seluruh Belahan Bumi Pada Malam Hari

Benua Amerika pada malam hari. Image credit: NASA
Benua Asia pada malam hari. Image credit: NASA
Benua Afrika, Eropa, dan Timur tengah pada malam hari. Image credit: NASA
Did you know? | Kurang lebih selama dua bulan satelit Suomi NPP mengumpulkan foto Bumi pada malam hari dan hal itu dimungkinkan dengan adanya instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS).

VIIRS mampu menangkap dan mendeteksi cahaya dengan menggunakan filter untuk dapat mengambil cahaya dari lampu-lampu kota, aurora, api kebakaran hutan, pantulan sinar Bulan dan sebagainya.

Satelit Suomi NPP merupakan satelit baru yang awalnya dikembangkan untuk kegiatan meteorologi untuk melihat awan di malam hari. Satelit ini terbukti mampu menghasilkan foto Bumi di malam hari dengan sangat baik dengan resolusi yang lebih tinggi.

VIIRS mampu membedakan mana cahaya kebakaran hutan, aurora, lampu kota dan sebagainya dengan mudah. Sensor cahayanya sangatlah peka. Satelit ini mengorbit Bumi dua kali dalam sehari pada ketinggian 824 km (612 mil) di atas permukaan Bumi. Dan dari luar angkasa pada malam hari Bumi tampak terlihat seperti Black Marble (marmer/ pualam hitam) yang indah.

Sumber: Astronomi