Showing posts with label Global Warming. Show all posts
Showing posts with label Global Warming. Show all posts

Saturday, February 16, 2013

Did you know? | Ulah Manusia, Ukuran Ikan Mengecil

Hiu mako, hiu tercepat berenang dengan kecepatan hingga mendekati 100 km/jam.

Did you know? | Akibat dampak lingkungan yang disebabkan oleh manusia, ukuran ikan saat ini jauh lebih kecil dibanding sebelumnya. Efek lainnya, ikan jadi semakin mudah dimangsa oleh predatornya. Ini berarti, sumber makanan penting ini menjadi semakin terancam, jauh melebihi perkiraan sebelumnya.

Dari hasil penelitian sebelum ini, diketahui bahwa beberapa spesies ikan penting telah menyusut, sementara, ikan-ikan yang lebih besar telah tertangkap jaring. Padahal, perubahan iklim sendiri telah mempengaruhi rantai makanan.

Untuk itu, sekolompok peneliti asal Australia dan Finlandia menggunakan pemodelan komputer untuk memprediksi apa yang akan terjadi saat lima spesies ikan mengalami penyusutan ukuran dalam kurun waktu 50 tahun. Dalam studi, peneliti mengamati lima spesies ikan di tenggara Australia yakni jackass morwong, tiger flathead, silver warehou, blue grenadier, dan pink ling.

Lewat simulasi, diketahui bahwa pada keempat spesies ikan, masa tubuh mereka akan menyusut, kecuali pada blue grenadier, yang meski ukurannya menciut, jumlah populasinya justru naik sepuluhpersen karena mereka berpindah ke kawasan yang lebih dekat dengan pantai, di mana mereka lebih aman dari serangan para predator.

Secara total, massa tubuh empat dari lima spesies yang diamati turun hingga 35 persen. Dari kalkulasi, meski penyusutan hanya mencapai empat persen, namun ternyata, kematian akibat predator akan meningkat hingga 50 persen.

Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters dari Royal Society, peneliti menyatakan, dampak terhadap hasil tangkapan juga signifikan. “Manusia telah mengubah ekosistem kelautan di seluruh dunia. Secara langsung lewat penangkapan ikan, dan secara tidak langsung lewat pemanasan global,” sebut peneliti. “Praktek pengelolaan ikan yang mengabaikan perubahan ini bisa menjurus ke overfishing,” sebut peneliti.
Sumber: National Geographic Indonesia
Editor: Kompas

Monday, December 3, 2012

Did you know? | Suhu di Indonesia Rata-rata Naik 1 Derajat Celsius Inilah yang akan Terjadi

Did you know? | JAKARTA — Suhu di Indonesia pada tahun 2000-2100 rata-rata diperkirakan naik 1 derajat celsius, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan seabad sebelumnya, sebesar 0,65 derajat. Meski hanya 1 derajat, dampaknya serius.

”Perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia memicu makin tingginya kenaikan suhu udara,” kata Guru Besar Hidrologi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Sudibyakto, dihubungi dari Jakarta, Rabu (28/11/2012).

Kenaikan suhu 1 derajat celsius tak terjadi merata. Daerah dengan kerusakan lingkungan parah makin tinggi kenaikannya.

Naik 1 derajat celsius berarti naiknya suhu maksimum dan turunnya suhu minimum sebesar 1 derajat. Rentang suhu suatu daerah kian lebar, meningkatkan ancaman kesehatan masyarakat.

Peningkatan suhu juga mengubah pola curah hujan. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan kekeringan, akan kian sering terjadi.

Kepala Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung Armi Susandi mengingatkan, perubahan iklim akan membuat Sumatera Tengah kian basah. Di Aceh, curah hujan makin tinggi.

Curah hujan di Jawa dan Lampung meningkat, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan Sumatera. Namun, risikonya lebih tinggi karena wilayah ini padat penduduk dan aktivitas ekonominya tinggi.

Kondisi kebalikan terjadi di Kalimantan yang jadi kian kering. Risiko kebakaran lahan dan hutan meningkat.

Kenaikan curah hujan juga terjadi di Nusa Tenggara Timur. Walaupun ada risiko longsor, jika bisa dikelola dengan baik, itu akan membuat wilayah kering jadi subur. ”Dampak perubahan iklim di setiap daerah unik sehingga pola adaptasi dan mitigasi di setiap daerah berbeda,” kata Armi.

Sumber: Kompas

Thursday, November 8, 2012

Did you know? | Kopi Arabika Terancam Punah dalam 70 Tahun


Did you know? | LONDON — Studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Royal Botanic Gardens, Kew (Inggris); dan Ethiopia, melaporkan bahwa kopi arabika (Coffea arabica) liar terancam punah dalam 70 tahun karena perubahan iklim. Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, Rabu (7/11/2012).

Kopi arabika liar penting bagi kelangsungan industri kopi karena keragaman genetik yang dimiliki. Arabika yang tumbuh di perkebunan terbilang miskin akan keragaman genetik sehingga kurang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim dan masalah lain, seperti hama dan penyakit.

Punahnya arabika tak cuma merugikan dalam hal keanekaragaman hayati. Kepunahan juga berdampak secara ekonomi sebab kopi merupakan komoditas perdagangan paling besar setelah minyak, dan menjadi sumber pendapatan utama bagi beberapa negara, misalnya Ethiopia.

Kesimpulan terancamnya kopi arabika didapatkan dari hasil pemodelan komputer. Data bahan pemodelan didapatkan dari museum (termasuk herbarium) dan lapangan. Ini adalah studi pertama yang mengukur dampak perubahan iklim pada kopi.

Dua analisis dilakukan dalam studi lokal dan kewilayahan. Studi dilakukan dengan membandingkan penyebaran kopi arabika saat ini dan yang diprediksikan hingga tahun 2080. Tiga interval waktu ditetapkan untuk analisis, yakni tahun 2020, 2050, dan 2080.

Hasil analisis mengungkap bahwa secara lokal, pengurangan distribusi kopi arabika secara lokal adalah 65 persen-99,7 persen. Sementara itu, hasil analisis kewilayahan menunjukkan bahwa pengurangan distribusi adalah 38 persen-90 persen.

Ancaman perubahan iklim pada kopi mungkin lebih buruk. Analisis ini belum menyertakan faktor deforestasi yang terjadi di sekitar habitat kopi arabika liar serta faktor lain, seperti hama, penyakit, perubahan waktu perbungaan, dan pengurangan populasi burung yang berfungsi sebagai penyerbuk.

Studi lapangan dalam tes pemodelan itu dilakukan di Dataran Tinggi Boma, Sudan, pada April 2012. Berdasarkan hasil pengujian, dengan menyertakan faktor deforestasi, arabika liar bisa punah pada tahun 2020. Hal itu masuk akal dengan rendahnya kualitas kesehatan arabika liar kini.
Sumber: Physorg
Editor: Kompas

Wednesday, October 31, 2012

Did you know? | Purnama, Memperburuk Dampak Badai Sandy

NASAIlustrasi Bulan Biru
Did you kow? |  Badai Sandy yang kini melumpuhkan New York dan New Jersey memang cuma dimasukkan sebagai kategori 1, namun dampak yang cukup signifikan. Banjir hingga kini melanda New York, tanggul di New jersey jebol dan masyarakat di beberapa wilayah AS kini hidup tanpa listrik.

Did you know? | Badai Sandy: Badai 'Super' dan Perubahan Iklim

TOPSHOTS / AFP PHOTO/Stan HONDAGelombang besar menghantam sebuah dermaga di Atlantic City, New Jersey,
Senin (29/10/2012), menjelang kedatangan Badai Sandy. Gelombang yang dipicu
badaitelah mencapai daratan dan air pun membanjiri wilayah permukiman di
sekitarnya.Pemerintah di wilayah-wilayah yang menjadi jalur badai memperingatkan
warganya bahwa bahaya badai tersebut "tidak bisa diperkirakan"
dan memerintahkan  warga masing-masing, dari wilayah New England sampai
North Carolina, untuk mengungsi ke tempat-tempat yang telah
disediakan pemerintah.

Did you know? | NEW JERSEY — Badai Sandy yang kini menghantam wilayah Amerika Serikat dikatakan tak biasa dan menjadi badai terbesar di AS dalam 100 tahun. Besarnya badai membuat beberapa pihak berpikir bahwa besarnya badai Sandy adalah dampak dari perubahan iklim. Benarkah?

Wednesday, October 17, 2012

Did you know? | September 2012 Tercatat sebagai Bulan Terpanas

Ilustrasi

WASHINGTON - September 2012 tercatat sebagai bulan terpanas. Hasil pengukuran National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan bahwa suhu rata-rata global pada bulan tersebut adalah 60,2 derajat Fahrenheit atau 15,67 derajat Celsius.

Tuesday, October 9, 2012

Did you know? | Perubahan Iklim Ancam 100 Juta Nyawa Manusia


(Image: Kompas)
Lebih dari 100 juta orang akan mati dan pertumbuhan ekonomi global akan turun sebesar 3,2 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2030 jika dunia gagal mengatasi masalah perubahan iklim.